MELEMAHNYA NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AS









PENDAHULUAN





Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus bergerak melemah dalam tiga hari terakhir. Mata uang Garuda terpantau melemah sejak awal pekan ini, Senin (25/9/2017) hingga Rabu (27/9/2017).





Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah berada pada level Rp 13.305 per dollar AS pada Senin, kemudian melemah menjadi Rp 13.348 per dollar AS pada Selasa (26/9/2017) dan Rp 13.384 per dollar AS pada Rabu.


Adapun berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 13.325 per dollar AS pada Senin. Rupiah kemudian melemah pada Selasa ke posisi Rp 13.374 per dollar AS dan Rp 13.445 per dollar AS pada Rabu.





peningkatan permintaan dollar AS terjadi menyusul rencana Presiden AS Donald Trump yang bakal mengumumkan rencana reformasi pajak.


Trump bakal memangkas pajak korporasi dari 35 persen menjadi 20 persen dan juga pajak individu.





Penguatan dollar AS terindikasi dari indeks dollar AS yang menyentuh level tertingginya dalam satu bulan, yakni pada level 93,48.


Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga mencapai level tertinggi dalam satu bulan, yakni pada level 2,29.





Pelemahan nilai tukar rupiah, juga memicu aksi jual atau sell-off pada pasar surat utang negara (SUN).


Hal ini terindikasi dari kenaikan imbal hasil SUN 10 tahun sebesar 12 basis poin menjadi 6,48 persen hari ini.


























PEMBAHASAN





Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat:


·         Kurang mapan nya perekonomian Indonesia.


Rupiah termasuk dalam soft currency atau mata uang yang lebih riskan mengalami depresiasi (penurunan nilai tukar mata uang terhadap mata uang negara lain) yang penentunya adalah mekanisme pasar dan disebabkan oleh perekonomian negara yang cenderung kurang mapan. Soft currency ini juga dimiliki oleh negara-negara berkembang lainnya yang mana tergantung juga pada sentimen dunia. Semisal di negara berkembang sering terjadi konflik maupun bencana alam maka kurs mata uangnya akan cenderung melemah, begitu sebaliknya jika sentimen dunia baik terhadap negara berkembang maka kurs mata uangnya akan menguat.


·         Capital flight (pelarian modal ke luar negeri).


Modal yang ada di Indonesia terutama pada pasar finansial, kebanyakan adalah modal dari investor asing. Sehingga secara tidak langsung, nilai Rupiah banyak bergantung pada kepercayaan para investor asing terhadap prospek bisnis yang ada di Indonesia. Semakin bagus iklim bisnis di Indonesia maka akan semakin banyak investor asing yang menanamkan modalnya sehingga nilai tukar Rupiah dapat menguat. Namun jika semakin sedikit investasi asing, maka rupiah otomatis akan melemah dan ini terjadi pada saat The Fed, Bank sentral AS mengeluarkan kebijakan tight money policy yang membuat investor menarik kembali investasinya di Indonesia ke dunia barat lagi (capital flight).


·         Ketidakstabilan ekonomi dan politik dalam negeri.


Sebenarnya faktor yang paling mempengaruhi kurs Rupiah adalah kondisi ekonomi dan politik dalam Indonesia. Performa data perekonomian di Indonesia seperti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi dan juga neraca perdagangan impor-ekspor juga cukup berpengaruh. Begitu juga dengan ketidakstabilan politik yang terjadi di Indonesia semisal pemilihan kepala negara, polemik politik dan sebagainya menyebabkan nilai tukar mata uang Rupiah melemah bahkan anjlok.


·         Kultur yang konsumtif dan boros.


Kultur negara yang cenderung konsumtif dan juga boros serta kebijakan umum mengenai hutang piutang membuat pemerintah akan mengalami kesulitan saat berhutang di dalam negeri sehingga kekurangan yang terjadi akan ditutupi dengan cara utang ke luar negeri. Karena hutang pemerintah harus dibayar dalam mata uang dolar maka sudah dapat dipastikan jika nilai tukar mata uang Rupiah akan ikut melemah terhadap Dollar.


·         Keadaan ekonomi Amerika Serikat yang stabil.


Selain karena faktor dalam negeri penyebab menurunnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, ternyata kondisi perekonomian AS pun juga berpengaruh terhadap naik-turunnya kurs Rupiah. Seperti dalam 8 tahun belakangan ini, kondisi ekonomi AS cukup stabil bahkan pertumbuhannya relatif pesat pada 6 tahun terakhir digambarkan dalam kondisi tingkat pengangguran yang menurun dan inflasi yang rendah. Selain itu ada rencana kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, The Fed yang mana dalam 3 tahun ke depan akan dinaikkan menjadi 2,5-3% karena perekonomian AS yang meningkat, otomatis suku bunganya juga akan naik dengan sendirinya








Dampaknya apabila nilai tukar rupiah ini terus mengalami pelemahan terhadap USD?


Inflasi Bisa Melambung



Bila nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan, maka akan memicu inflasi. Harga-harga barang di dalam negeri akan meningkat. Terutama untuk barang atau produk yang diolahnya dari bahan baku impor. Kenapa? Karena produsen harus merogoh kocek lebih besar lagi untuk membeli bahan bakunya dari luar negeri itu alias impor


Order Para Eksportir Menyusut


Dengan pelemahan rupiah, maka para eksportir yang sebelumnya kebanjiran order dari luar negeri, bisa-bisa menyusut. Tentu tidak semua eksportir, tapi khusus ekspotir yang produknya masih bergantung pada bahan baku impor.


Kenapa? Seperti ulasan sebelumnya, karena rupiah melemah, maka harga jual produk menjadi mahal, tidak hanya di dalam negeri, tapi juga harga jual di luar negeri tak lagi kompetif.


Jika ini terjadi maka:


·         Permintaan barang ekspor menurun sehingga penjualan makin lesu dan produsen banyak kehilangan order


·         Persaingan makin ketat karena karena bisa jadi negara lain punya produk yang lebih murah akibat nilai tukar mereka lebih kuat dibanding rupiah. Hal ini akan makin merugikan produsen kita karena produknya tidak lagi kompetitif


·         Bila konsumen luar negeri tidak mau beralih dengan produk lain alias sudah jatuh cinta dengan produk kita, biasanya mereka hanya mengurangi jumlah pesanannya karena tidak mampu dengan harga yang ditawarkan


Bisa Memicu Defisit Neraca Perdagangan



Bila pelamahan rupiah terus berlanjut volume ekspor memang akan meningkat. Ini khusus untuk ekspor komoditas mentah yang selama ini menjadi komoditas utama ekspor Indonesia. Sebab semakin rupiah melemah, maka harga barang-barang ekspor Indonesia dari komoditas mentah itu atau produk lainnya yang tidak bergantung impor akan lebih murah dibanding negara lain.











Dampak Lanjutan Pelemahan Rupiah Memicu PHK!



Satu hal yang merisaukan akibat turunnya nilai tukar rupiah adalah munculnya pemutusan hubungan kerja. Seperti ulasan di atas, pelemahan rupiah bisa menyebabkan produsen harus mengeluarkan biaya tinggi untuk produksinya dan berakibat pada naiknya harga jual produk, sehingga inflasi meningkat dan daya beli masyarakat tererus.


Bila daya beli masyarakat tergerus, maka mereka akan mengurangi konsumsinya, dan banyak barang yang tidak habis terjual. Jika produsen masih banyak stok, maka produksi berkurang atau bahan terhenti. Jika demikian, mau tidak mau industri akan mengurangi jumlah karyawannya.


PHK menjadi mata rantai yang makin memperberat perekonomian nasional dan bisa terjadi dengan penyebab sebagai berikut:


·         Depresiasi rupiah berdampak pada ekspor dan impor


·         Saat terjadi depresiasi harga barang-barang impor meningkat karena nilai mata uang kita dibanding Dolar AS dan berbagai mata uang asing lainnya melorot


·         Pengguna barang impor harus membayar uang lebih besar untuk barang yang dibelinya, sedangkan sebagian dari barang yang diimpor Indonesia adalah barang modal, termasuk bahan baku, mesin pertanian, dan mesin-mesin untuk produksi manufaktur.


·         Di sisi lain, perusahaan juga harus membayar biaya produksi lainnya, seperti bunga pinjaman dan upah karyawan


·         Satu-satunya yang bisa dipangkas adalah biaya tenaga kerja. Artinya, perusahaan bisa jadi akan berhenti menaikkan gaji atau mengurangi bonus, atau malah memecat karyawan jika beban biaya produksi dinilai sudah terlalu tinggi.


Peran Pemerintah dan BI dalam Menjaga Nilai Tukar Rupiah



Peran pemerintah dan Bank Indonesia sangat besar dalam menjaga nilai tukar rupiah. Pemerintah akan menjaga dari segi fisal dan BI dari sisi moneternya.


Dari sisi fiskal, pemerintah akan menjaga harga-harga barang terutama kebutuhan bahan pokok atau pangan sebagai penyebab tingginya inflasi dengan membuat kebijakan-kebijakan yang bisa membuat harga-harga tersebut stabil.


Misal, daging sapi. Ini merupakan salah satu bahan pangan yang menyumbang inflasi besar karena masuk dalam keranjang bahan makanan bergejolak (volatile food). Ketika harga daging mahal, maka pemerintah akan mengeluarkan kebijakan impor bila daging sapi di dalam negeri tidak mencukupi.


Sementara itu, peran BI. Sebagai pembuat kebijakan dari sisi moneter, biasanya akan melakukan intervensi pasar atau biasa disebut ‘berada di pasar’ dengan menggelontorkan valuta asing (USD) yang diambil dari cadangan devisa (cadev). Biasanya ini dilakukan bisa rupiah benar-benar sudah berada jauh di bawah fundamentalnya alias melemah sangat tajam terhadap dolar AS.


Dengan sinergi yang baik antara  pemerintah dan Bank Indonesia, maka nilai tukar rupiah akan tetap stabil dan mempengaruhi secara positif terhadap perekonomian nasional.



 

KESIMPULAN


Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Nilai tukar Dollar AS membuat meruginya beberapa pihak. Setiap tahunnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS berubah-ubah,5 tahun terakhir ini Nilai tukar Rupiah terus mengalami penurunan dan kenaikan. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranyatingkat suku bunga, tingkat inflasi, neraca perdagangan, tingkat rasio ekspor impor, tingkat pengangguran, tingkat pendapatan dan stabilisasi ekonomi serta politik. Apabila dibiarkan secara terus menerus maka anjloknya Rupiah akan berdampak buruk terhadap perekonomian masyarakat Indonesia. Contohnya, menurunnya daya beli masyarakat,daya beli masyarakat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari sisi impor-pun akan menyebabkan defisit keuangan yang cukup besar terhadap negara kita, karena kita masihmengimpor bahan bakar minyak (BBM) dan juga bahan pangan. Dengan melemahnya Rupiah kita memerlukan rupiah yang banyak untuk ditukar dengan Dollar AS.Untuk mengatasi hal ini,Pemerintah perlu melakukan beberapa kebijakan yang selektif.Diantaranya, menstabilkan perekonomian negara, menginterfensi nilai mata uang Rupiah,memaksimalkan ekspor daripada Impor dan meningkatkan daya beli masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/03/093000126/rupiah-melemah-terhadap-dollar-as-ini-sebabnya

Komentar