Ekonomi Indonesia Di Awal Era Kolonial
Ekonomi
Indonesia Di Awal Era Kolonial
Kolonialisme bermula ketika Vasco da Gama dari
Portugis berlayar ke india pada tahun 1498. Di awali dengan pencarian jalan ke
Timur untuk mencari sumber rempah-rempah perlombaan mencari tanah jajahan
dimulai.
Kuasa Barat Portugis dan Spanyol kemudian diikuti
Inggris dan Belanda berlomba-lomba mencari daerah penghasil rempah-rempah dan
berusaha mengusainya. Penguasaan wilayah yang awalnya untuk kepentingan ekonomi
akhirnya beralih menjadi penguasaan atau penjajahan politik yaitu campur tangan
untuk menyelesaikan pertikaian, perang saudara, dan sebagainya. Ini karena
kuasa kolonial tersebut ingin menjaga kepentingan perdagangan mereka daripada
pergolakan politik lokal yang bisa mengganggu kelancaran perdagangan mereka.
Diawali dari
Portugis yang pertama kali datang ke Malaka pada 1509. dipimpin oleh Alfonso de
Albuquerque Portugis dapat menguasai Malaka pada 10 Agustus 1511. Setelah
mendapatkan Malaka, portugis mulai bergerak dari Madura sampai ke Ternate.
Alfonso de
Albuquerque arsitek utama ekspansi portugis ke Asia, bangsa ini meruakan bangsa
Eropa pertama yang tiba di Nusantara, dan mencoba mendominasi sumber-sumber
rempah-rempah berharga dan berusaha menyebarkan Katolik Roma.
Pada awalnya
bangsa Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai pada tahun 1512 dengan
Kerajaan Sunda di Parahyangan, namun perjanjian koalisi tersebut gagal akibat
sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa,
seperti Demak dan Banten.
Bangsa Portugis mengalihkan perhatiannya ke Kepulauan Maluku, yang terdiri atas
berbagai kumpulan negara yang awalnya berperang satu sama lain. Melalui
penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, Portugis
mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur, termasuk
Pulau Ternate, Ambon, dan Solor
Setelah
mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat -
seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis mendapat izin untuk
mendirikan benteng di Pikaoli. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak
berjalan lama, sebab Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan
penyebaran agama Kristen.
Pertemanan
Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan
Babullah berlangsung selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus
menyingkir dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon. Kemudian Perlawanan
rakyat Maluku akan Portugis digunakan Belanda untuk menjejakkan kakinya di
Maluku.
Pada 1605,
Belanda berhasil membuat Portugis menyerahkan pertahanannya di Tidore kepada
Cornelisz Sebastiansz dan di Ambon kepada Steven van der Hagen. Demikian
pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda.
Sejak itu Belanda dapat menguasai sebagian besar wilayah Maluku. Kedudukan Belanda
di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada 1602, kemudian sejak itu
Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku.
Portugis
menjajah Indonesia dari tahun 1512 M hingga 1641 M. Beberapa kebijakan
diterapkan di Indonesia terutama di daerah Maluku. Kebijakan tersebut
diantaranya yaitu:
- Menanamkan kekuasaan di Maluku.
- Menyebarkan agama Katolik.
- Mengembangkan bahasa dan musik keroncong.
- Memonopoli perdagangan.
Kebijakan
yang dilakukan Portugis ini sangat merugikan petani terutama adanya sistem
monopoli perdagangan karena Portugislah yang mematok harga dari rempah-rempah
tersebut. Petani juga tidak leluasa menjual rempah-rempahnya ke pihak lain
selain Portugis. Dengan adanya sistem monopoli ini membuat Portugis mendapat
keuntungan yang sangat besar.
Berikut ini
merupakan dampak dari adanya kebijakan-kebijakan yang diberlukan oleh Portugis
yaitu:
- Terganggunya sistem perdagangan.
- Agama Katolik mulai menyebar di daerah yang diduduki Portugis.
- Rakyat menjadi miskin dan menderita.
- Munculnya rasa persatuan untuk melawan Portugis di Maluku.
- Bahasa Portugis bercampur dan memperkaya perbendaharaan kata, serta mempengaruhi nama-nama keluarga di daerah Maluku.
- Berkembangnya seni musik keroncong.
Komentar
Posting Komentar